“BLAQ% Ver” & Highfive with MBLAQ

Tulisan ini pernah gw posting di blog lama gw pas jaman SMA (Multiply itu termasuk blog kan ya?) Tp karna Multiply udah tutup, postingan tsb pun ilang. Untung sblmnya gw sempet simpen softcopy-nya, jd skrg bisa gw posting lg kesini~ Mungkin kalian bakal ngerasa model tulisannya beda bgt ama model tulisan gw yg skrg. Dulu gw kalo nulis selalu pake “aku-kamu” (pdhl kalo ngomong pake “gw-lo”) & bahasa yg lebih baku drpd skrg, karna gw pikir itu bakal keliatan lebih sopan. Skrg karna gw liat byk blog pribadi org yg nulisnya pake bahasa ‘gaul’, jd yaudahlah gw ngikut jg, haha 😛 Lagian jg rasanya lebih enak & lebih bebas kalo pake bahasa yg dipake sehari2~ Tulisan ini bercerita ttg perjuangan gw buat bisa highfive ama MBLAQ. Syukurlah perjuangan gw itu ga sia2 karna gw bisa ketemu langsung & highfive dgn MBLAQ ^^ Tulisan di bawah ini ga gw ubah dikit pun dr tulisan aslinya (gw bikin H+1 stlh kejadian jd gw msh bisa cerita secara detail, haha), jd jgn bingung ya kalo agak keliatan aneh, hehe. Selamat membaca~

“Oke besok kita jadi jalan bareng ya~” ujar seseorang kepadaku. Aku dan temanku berencana membeli album salah satu boyband Korea kesukaan kami yaitu MBLAQ (엠블랙). “BLAQ% VER” —album yang akan kami beli­—merupakan album pertama MBLAQ yang dirilis di Indonesia. MBLAQ akan mengadakan konser di Indonesia tanggal 30 Juni 2012, oleh karena itu Warner Music Indonesia, perilis album “BLAQ% VER”, membuat undian yang hadiahnya adalah highfive (tos) dengan para member MBLAQ sehari sebelum konser yaitu pada tanggal 29 Juni 2012. Caranya gampang, kami hanya perlu membeli album tersebut tanggal 6 Juni 2012. Bisa mendapatkan 1 kupon undian tambahan apabila kami menggunakan RBT (Ringback Tone) MBLAQ atau membawa majalah-majalah yang disebutkan.

Pagi itu, tanggal 6 Juni 2012, aku berangkat bimbel seperti biasanya. Aku baru saja lulus dari SMAN 28 Jakarta dan akan mengikuti SNMPTN tertulis pada tanggal 12-13 Juni 2012, oleh sebab itu aku harus rajin mengikuti bimbel setiap hari. Biasanya seusai bimbel aku langsung pulang ke rumah, tapi hari ini tidak. Kenapa? Tentu karena aku & temanku akan membeli album seperti yang udah direncanakan kemarin. Rencananya seusai aku bimbel nanti, tepatnya pukul 10.00, kami akan naik bus TransJakarta dari Pasar Minggu menuju Alia Building, Gambir, gedung dimana kantor Warner Music Indonesia berada. Perjuanganku untuk mendapatkan izin pergi dari orangtuaku tidak mudah. Orangtuaku  tidak mengizinkan aku pergi karena aku harus menjaga kesehatan menjelang SNMPTN jadi aku tidak boleh pergi jauh karena takut aku kecapekan lalu sakit. Orangtuaku terus memarahiku sampai sempat tidak mau berbicara lagi denganku. Selain itu juga sebenarnya aku sedang merasa kurang sehat beberapa hari ini, tapi demi mendapatkan izin dari orangtuaku, aku terus berusaha terlihat sehat didepan mereka. Karena semua usahaku itu, aku pun berhasil mendapat izin dari orangtuaku, oleh karena itu hari ini aku merasa sangat senang. Tetapi kesenanganku itu tidak berlangsung lama, teman yang udah berjanji akan menemaniku itu membatalkan janjinya secara mendadak karena ia sakit. Sepulang bimbel pun aku berpikir apakah akan tetap pergi ke Gambir sendirian atau membatalkannya saja. Ibuku pasti enggak akan mengizinkan aku pergi kalo dia tahu aku jalan sendirian karena maklum aku anak sematawayang dan belum pernah pergi jauh sendirian. Tapi kalo dibatalkan aku pasti akan merasa sangat menyesal karena aku kehilangan salah satu kesempatanku untuk bisa highfive dengan para member MBLAQ. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap jalan tetapi aku tidak memberitahu ibuku kalo aku pergi seorang diri.

The story start now! Dimulai dari aku membeli roti dan susu sebagai bekal karena tadi pagi aku belum sempat sarapan. Lalu aku menuju halte SMK 57 dan menunggu bus TransJakarta yang kearah Monas. Setengah jam aku menunggu, sampai roti dan susu yang telah kubeli habis semua, namun bus yang kutunggu-tunggu tidak kunjung datang. Hanya ada bus yang menuju Dukuh Atas. Awalnya aku tetap keukeuh menunggu yang kearah Monas karena kalo aku naik yang kearah Dukuh Atas aku harus transit bus 2 kali, di halte Dukuh Atas dan di halte Monas, namun karena takut kelamaan akhirnya aku pun menaiki bus yang kearah Dukuh Atas. Di halte Dukuh Atas aku turun dan berganti bus yang kearah Kota. Setelah berjalan di jembatan yang cukup panjang dan antri cukup lama aku pun menaiki bus kearah Kota. Enggak seperti bus sebelumnya, bus yang kali ini amat penuh, sampai-sampai aku enggak dapat tempat duduk. Enggak seperti bus sebelumnya juga, hanya butuh sedikit waktu menuju halte Monas, halte transit-ku yang berikutnya. Hanya dalam hitungan menit aku sampai di halte Monas. Dari situ aku menaiki bus kearah Harmoni. Yang kutahu ada halte Gambir 1 dan Gambir 2, aku enggak tahu di halte mana aku harus turun. Begitu bus berhenti di halte Gambir 1 aku berpikir untuk turun di halte berikutnya aja karena kupikir ada halte Gambir 2, selain itu juga karena aku belum tahu persis dimana letakAliaBuilding.

Mungkin karena melihat raut mukaku yang bingung, seorang ibu-ibu yang duduk disampingku bertanya “Mbak, mau turun dimana? Emangnya mbak ini mau kemana?”

“Saya juga enggak tahu mau turun dimana. Apa nama halte yg berikutnya ya, Bu?”

“Halte berikutnya itu halte Kwitang.”

“Nah, ini tempat tujuan saya, Bu!” ucapku tiba-tiba sambil menunjuk kearah sebuah gedung bertuliskan ‘Alia’, “apa halte berikutnya masih jauh?”

“Oh kalo mau kesini harusnya mbak turun di halte sebelumnya tadi. Terlalu jauh kalo dari halte berikutnya.”

“Oh begitu. Yaudah kalo begitu di halte nanti saya naik bus arah sebaliknya aja.”

“Enggak bisa, Mbak. Bus arah sebaliknya itu ke Senen. Sebaiknya nanti mbak jalan kaki mengikuti jalur busway ini aja kearah tadi.”

Akhirnya aku turun di halte Kwitang setelah tentu saja berterimakasih kepada ibu-ibu yang telah membantuku tadi. Aku pun mengikuti saran dari ibu-ibu tersebut, jalan kaki kearah Wisma Alia yang ternyata lumayan jauh. Setelah cukup lama akhirnya aku sampai didepan Alia Building. Dengan langkah riang aku memasuki gedung tersebut.

“Mau kemana, Dik?” tanya seorang satpam.

“Kantor Warner Music lantai berapa ya, Pak?” tanyaku kepada satpam tersebut.

“Lantai 6, Dik. Adik ini mau beli cd, apa itu namanya, juga ya?”

“Namanya MBLAQ, Pak,” sahut seorang perempuan yang mungkin sebaya denganku.

“Apa itu MBLAQ?” tanya satpam tersebut dengan raut muka bingung.

“Salah satu boyband Korea,” jawab perempuan tadi lagi.

Aku hanya tertawa mendengar percakapan dua orang itu “Makasih ya, Pak,” ucapku kepada satpam tersebut saat menaiki lift.

“Berani sendiri atau perlu ditemani, Dik?” tanya satpam itu lagi dengan nada bercanda.

“Hahaha saya sendiri aja, Pak, enggak takut kok.”

Sesampainya di kantor Warner, aku langsung membeli album yang sangat kuinginkan. Aku membeli 2 album karena ada sepupuku yang menitip padaku. Dia enggak bisa beli karena masih sekolah. Aku mendapatkan 2 kupon tambahan karena membeli majalah KawanKu dan menggunakan RBT salah satu lagu MBLAQ yang berjudul “Jeonjaengiya (전쟁이야)” yang artinya ‘It’s War’. Setelah membayar 130 ribu rupiah per album dan mendapatkan kupon undian, aku pun mengisi kupon tersebut lalu memasukkannya kedalam kotak undian yang telah disediakan. Pemenangnya akan diumumkan tanggal 15 Juni 2012 nanti, jadi tolong doakan aku menang ya, hehe~

Aku bisa sampai disini dengan mudah berarti perjalananku pulang juga akan semudah itu, pikirku ketika keluar dari Alia Building. Namun ternyata perjalanan pulang tak semulus yang kubayangkan. Aku jalan kaki pelan-pelan menuju halte Gambir dan sesampainya disana…

Cuma ada yang ke Pulogadung? tanyaku pada diri sendiri dengan panik. Aduh gimana cara pulangnya nih?

“Mbak, bus yang arah Ragunan naiknya dari mana ya?” tanyaku pada seorang perempuan penjaga loket bus TransJakarta.

“Mbak lurus aja, ikutin tanda panah itu,” jawabnya sambil menunjuk lurus kearah Monas.

“Cuma bisa lewat situ, Mbak?”

“Iya. Mbak ikutin aja tanda itu.”

“Oh iya, makasih, Mbak,” ucapku lemas. Aku udah sangat lelah, tentu saja karena aku udah bepergian selama dua jam. Membayangkan aku berjalan kaki ‘menyebrangi’ Monas membuatku makin lelah. Bagaimana tidak, Monas itu amat luas dan aku harus melaluinya untuk bisa pulang.

“Neng, naik ojek aja ama abang biar cepet,” ajak seorang tukang ojek.

Aku hanya menggeleng. Aku mengambil hp di saku celanaku yang dari tadi memutar lagu-lagu favoritku ­—menemani aku sepanjang jalan—untuk menelpon ibuku. Setelah cukup lama aku berunding dengan ibuku, akhirnya aku memutuskan untuk naik taksi aja. Aku pun berjalan kaki lagi mencari taksi. Ketika aku sedang menunggu taksi, ada tiga orang perempuan yang mungkin sebaya denganku.

“Mbak, tahu daerah sini enggak?” tanya salah seorangnya kepadaku.

“Ah saya juga lagi bingung, Mbak,” jawabku yang saat itu memang sedang kebingungan mencari taksi.

“Oh begitu. Makasih, Mbak,” ucapnya lagi.

Aku hanya tersenyum lalu kembali menunggu taksi lewat. Lalu ada seorang ibu-ibu dengan anaknya lewat di depanku.

“Ibu, tahu daerah sini enggak?” tanya perempuan tadi lagi kepada ibu-ibu tersebut.

“Oh tahu, Mbak. Ada apa ya?” tanya balik sang ibu tersebut.

“Ibu tahu dimana Wisma Alia?”

“Oh mau ke Alia? Kalo itu mah saya tahu, tadi kan saya abis dari situ, Mbak,” potongku tiba-tiba.

Setelah menjelaskan  panjang-lebar, tiga perempuan beserta ibu dengan anaknya itu pun pergi. Aku kembali menunggu taksi.

Udah berkali-kali aku menyetop taksi yang kosong, tapi kenapa enggak ada yang mau berhenti ya?

Aku melihat sekeliling dan ternyata ada pintu masuk Stasiun Gambir di dekatku. Pantas saja tak ada taksi yang mau berhenti karena pasti taksi-taksi itu mau mengambil penumpang yang ada di stasiun tersebut. Aku sempat berencana untuk masuk ke dalam stasiun untuk naik taksi, tapi kuurungkan niatku karena aku takut hilang di dalam stasiun. Dengan putus asa, aku jalan kembali ke halte Gambir tadi.

“Udah ketemu jalannya, Neng?” tanya seorang tukang ojek yang tadi menawariku tumpangan.

Aku tertawa mendengarnya. Aku merasa malu karena seorang tukang ojek menyindirku sebagai ‘anak hilang’.

“Ke halte Monas berapa, Bang?” tanyaku pada tukang ojek tersebut.

“Sepuluh ribu aja, Neng,” jawabnya sambil menodorkan helm padaku, “disini banyak polisi jadi harus pake helm.”

Aku pun menurut. Aku memakai helm tersebut dan naik keatas motor. Motor pun mulai melaju. Setelah beberapa menit, sampailah aku di halte Monas. Aku membayar tukang ojek tersebut lalu membeli tiket dan antri menunggu bus yang langsung kearah Ragunan. Sambil menunggu, aku pun membaca majalah yang tadi kubeli. Majalah itu udah kubaca tiga kali, namun bus yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang. Bosan, aku pun memasukkan majalah tersebut kedalam tasku. Headset ­terus terpasang di telingaku —memperdengarkan lagu-lagu yang ada di hpku— menemaniku menunggu bus. Makin lama antrian pun makin panjang. Ada yang mulai marah-marah karena bus yang kami tunggu tidak datang-datang.

Akhirnya setelah satu setengah jam aku menunggu, bus menuju Ragunan pun datang. Kami semua cepat-cepat masuk ke dalam bus tersebut agar bisa mendapatkan tempat duduk. Beruntungnya aku bisa mendapat tempat duduk yang nyaman. Mungkin karena kelelahan, berkali-kali aku nyaris ketiduran. “Next stop, Pejaten shelter. Please check your belonging and step carefully, thank you.” Aku pun lompat dari tempat duduk karena terkejut. Aku harus turun di halte Pejaten, hampir saja terlewat karena aku ketiduran. Aku pun turun dari bus dan berjalan kaki menuju Pejaten Village Mall, tempat aku dan ibuku berjanjian untuk bertemu. Setelah makan, aku menunggu ibuku di Gramedia.

“Loh, Cha, Devina mana?” tanya ibuku mengagetkanku.

Aku hanya diam.

“Devina udah pulang?” tanya ibuku lagi.

Aku yang udah sangat capek dan juga merasa bersalah karena tidak jujur pada ibuku pun langsung menangis dan berkata “Devina enggak jadi ikut, Ma. Jadi tadi aku jalan sendirian.”

“Oh, kamu jalan sendiri kesana? Kenapa Devina enggak jadi ikut? Yaudah enggak apa-apa yang penting kamu selamat,” ucap ibuku lembut.

“Dia sakit,” jawabku singkat.

Setelah aku merasa cukup tenang, kami pun langsung pergi ke rumah saudara. Ternyata saudara-saudaraku memang sedang berkumpul. Di rumah saudaraku itu aku hanya duduk diam karena kelelahan. Ibuku bercerita kepada kakak-kakaknya kalo tadi aku jalan jauh ke Gambir sendirian dan mereka semua pun takjub nyaris tak mempercayainya.

“Wah, Icha udah gede ya bisa jalan sendiri.”

“Icha berani ya jalan jauh sendirian begitu.”

“Icha udah mandiri ya.”

Banyak komentar lain yang diberikan oleh saudara-saudaraku itu, aku hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.

Setelah merasa tak begitu lelah, aku pun membuka dan melihat-lihat album “BLAQ% Ver” yang baru saja kubeli. Saat sedang asyik melihat-lihat, tiba-tiba seorang anak kecil, laki-laki, keponakanku yang baru berusia sekitar tiga tahun, menarik album tersebut dan nyaris merobeknya tepat di halaman foto G.O, salah satu member —main vocalist—MBLAQ yang paling kusukai. Aku pun refleks teriak dengan keras.

“Ada apa, Cha?” tanya ibuku.

Aku merasa bersalah karena teriakanku mengganggu diskusi saudara-saudaraku itu. Semua orang yang ada di ruangan itu pun memandangiku.

“Rafi mau ngerobek albumku, Ma. Padahal album itu kan udah kubeli susah-susah,” jawabku dengan nada agak serak karena menahan kesal.

“Yaudah enggak apa-apa, maklum, namanya juga anak kecil,” ucap ibuku menenangkanku lalu diskusi mereka pun berlanjut.

Setelah diskusi selesai, kami semua pun pulang ke rumah masing-masing. Sekarang album itu udah tersimpan rapi bersama album-album MBLAQ yang lain.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s